Aku adalah “Cermin” bagi orang lain.

Siapa sih yang gak pernah bercermin, kita semua pernah bercermin. sebelum memulai aktifitas apakah itu kekantor, kuliah, sekolah, kondangan ketemu pacar sekalipun pasti dimulai dengan cermin. biasanya sih kita akan lebih pede setelah bercermin, ya iyalah disitulah kita bisa tau sudah seganteng dan secantik apakah kita (tapi klu  ud dari sononya gimanaaaa geetoo.. ya maap2 aj deh cermin gk bisa merubahnya hehe..) dicermin kita bisa ngatur gaya rambut, bisa tau menor atau tidak dandanan, bisa tau ada bekas cabe atau gak di gigi kita atau whateverlah. setiap gerakan kita akan diikuti si cermin, kita senyum dia ikut senyum, kita melotot dia ikut melotot, kita nungging diapun ikut nungging, kalau gak percaya cobain deh. ya.. mungkin bagi kebanyakan orang cermin hanyalah sekedar alat bantu untuk berias atau berdandan tapi bagi saya tidak, cermin menyimpan filosofi yang mungkin sama dengan karakter dan sifat saya. cermin akan mengikuti setiap gerak yang dilakukan orang didepannya, saya pun begitu akan melakukan hal yang sama atas apa yang dilakukan orang terhadap saya. kalau orang itu baik, saya akan berbuat baik dan bahkan akan lebih baik. kalau orang itu jahat sayapun akan berbuat begitu bahkan mungkin akan lebih jahat. mungkin ada yang berpendapat itu egois ataupun sadis, tapi bagi saya itu flexibel. simpel kan? dalam hal ini sayalah yang menjadi cermin  dan akan terus berubah-ubah mengikuti perbuatan orang lain. bukankah ada kita bijak mengatakan “Jika kita berbuat baik, kebaikan pula yang akan kita terima kelak” begitupun sebaliknya jika kita berbuat jahat. setiap orang gak pengen punya musuh, setiap orang pengen punya banyak teman. tapi kalau orang yang jahat sama kita apa boleh buat kalau kata orang betawi mah ”Lo jual gue beli” filosofi cermin akan segera bereaksi. kalau dari diri setiap manusia sudah tertanam jiwa untuk berbuat baik, alangkah indahnya dunia.. belum telat koq, yuk kita mulai!

Joko namanya..

“siang mas, mau ambil gelas kotornya..” begitulah kalimat yang sehari-hari saya dengar dari OB (Office Boy) kami, seperti biasa setelah jam istirahat siang dia keliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya untuk mengumpulkan gelas kotor yang dipakai para pekerja. dengan senyum khasnya dia menyapa dengan ramah para pekerja yang baru kembali akan memulai aktivitas setelah istirahat siang. pemuda asal jawa ini mencoba mencari rejekinya ditanah sumatera, saya memang tidak terlalu banyak tau tentang perjalanan hidupnya sehingga bisa terdampar ditanah sumatera, yang saya tau dia adalah pemuda yang gigih, santun, rajin dan tanpa pamrih. malu rasanya kalau melihat diri sendiri yang mungkin nasibnya lebih baik dari dia tapi selalu mengeluh dan selalu merasa kurang, iri kadang terlintas kala melihat senyumnya yang tulus tanpa beban tersungging dari bibirnya. tak pernah tau apakah kehidupannya bahagia atau tidak yang jelas didepan semua orang dia menunjukkan sikap ramah dan raut muka yang selalu bersahabat, menghargai pekerjaan yang dia kerjakan. diam-diam banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan dia dan mencoba untuk menerapkan dalam kehidupan saya, dia membuka mata bahwasanya kehidupan ini harus tetap dijalani dan dihadapi dengan senyuman apapun kondisinya, bekerja tanpa pamrih tanpa mengharap suatu imbalan selain penghasilan tiap bulan yang telah menjadi hak dia, jangan pernah mengeluh apapun masalah yang dihadapi karena dengan mengeluh tak akan menyelesaikan masalah tapi berusaha bagaimana caranya supaya keluar dari masalah. dia bukan siapa-siapa, tp banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupannya. dia membuktikan bahwa materi bukan segala-galanya untuk dapatkan bahagia.. semangat terus pemuda, terima kasih atas inspirasinya.. terima kasih Joko…

Ditulis dalam Info. 2 Komentar »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.